apa aku harus mengeja dan mendikte kata demi kata, apa apa saja yang aku minta darimu?
apa aku harus menuntunmu betul-betul pada sesuatu yang aku suka dan tidak aku suka?
apa harus seperti itu baru kau benar-benar tau? apa harus dengan cara seperti itu?
kisah kan sudah berjalan lama, mungkin jika dihitung, lamanya seperti anak yang tadinya masih tak mampu apa-apa, hingga ia bisa berbicara.
apa masih belum cukup waktu yang dilalui dan tanah yang dipijaki untuk belajar mengerti dan memahami?
apa masih kurang?
kedewasaan yang aku mau dalam bongkahan rasiomu. tolong belajarlah, aku tunggu jika kau benar-benar mau mencobanya, jika tidak, aku diam dan mundur perlahan.
redup sebuah lentera kehidupan yang selalu terisi api semangat tak akan pernah bisa padam..
Wednesday, March 20, 2013
1 dari 24
setegar-tegarnya aku, aku tetap manusia, aku bukan karang apalagi baja.
karang pun bisa terkikis seiring jutaan kali debur ombak yang menghempasnya.
lemah, iya aku memang lemah, tapi bagiku ini sudah terlampau hebat dan kuat.
tolong jangan memaksaku menjadi lebih kuat lagi, besi saja bisa bengkok jika terus ditekan, apalagi hatiku yang rapuh ini.
sekarang aku berkaca, mencoba mendeskripsikan diriku, membuat kronologi waktu, apa saja yang sudah aku alami denganmu.
aku berkaca, mengamati jengkal demi jengkal tiap sisi tubuhku, aku memang terlampau lemah, tak sempurna.
aku tak akan pernah menjadi sempurna, tak akan bisa lebih baik tanpa rangkulan.
aku hanya ingin kamu mengerti, satu tetes liur saja dari yang pernah aku keluarkan saat berkata-kata padamu.
tolong pahami aku.
kadang aku hanya meminta waktu barang satu menit saja dari 24 jam yang kamu miliki.
itu cukup, apa aku terlalu muluk-muluk?
karang pun bisa terkikis seiring jutaan kali debur ombak yang menghempasnya.
lemah, iya aku memang lemah, tapi bagiku ini sudah terlampau hebat dan kuat.
tolong jangan memaksaku menjadi lebih kuat lagi, besi saja bisa bengkok jika terus ditekan, apalagi hatiku yang rapuh ini.
sekarang aku berkaca, mencoba mendeskripsikan diriku, membuat kronologi waktu, apa saja yang sudah aku alami denganmu.
aku berkaca, mengamati jengkal demi jengkal tiap sisi tubuhku, aku memang terlampau lemah, tak sempurna.
aku tak akan pernah menjadi sempurna, tak akan bisa lebih baik tanpa rangkulan.
aku hanya ingin kamu mengerti, satu tetes liur saja dari yang pernah aku keluarkan saat berkata-kata padamu.
tolong pahami aku.
kadang aku hanya meminta waktu barang satu menit saja dari 24 jam yang kamu miliki.
itu cukup, apa aku terlalu muluk-muluk?
Saturday, March 16, 2013
Maaf, saya bukan biota atau bahkan satwa endemik kawasan pelarian!!
Tanda tersebut terpasang mulai hari ini.
Hari dimana hati, pikiran, dan lisan Anda membuat sesak, menohok, teramat dalam dan jauh, hingga menunjam keras di tempat ini, tempat yang paling sering Anda getarkan, orang-orang sih sering menyebutnya hati, ya itu kata mereka. Tapi, mungkin bagi Anda ini hanyalah alas kaki.
Tolong, berhenti membuat hati ini secara tiba-tiba penuh dengan kubangan bunga, dan sewaktu-waktu pula menjadi sesak dan panas dengan percik api yang cemburu yang menyala.
Aku tak pernah berharap bilik terbaikku ini diusik oleh organisme sepertimu. Bisakah sedikit mengerti suatu hal bernama "rasa"?
Setiap detik pergantian waktu, gelombang kebersamaan makin mendekatkan kita. Aku berharap itu tak akan membuatku lebih jauh ingin mengenalmu. Cukup sampai saat ini saja, ini pun sudah lebih dari kata cukup.
Jika kamu ingin madu, jangan mencari batang, tapi temukan bunganya!
Jika kamu menginginkannya, jangan mencariku dan mericuhi bilik hatiku yang kian rapuh ini, tapi temukan sebongkah hatimu yang lain, mungkin ada disana, mungkin.
Friday, March 1, 2013
PROYEKSI PETA
Proyeksi merupakan suatu metode pemindahan gambaran permukaan bumi
dari bentuk lengkung
(globe) ke bidang datar atau dua dimensi
(peta). Salah satu alasan mengapa perlu dilakukan proyeksi, adalah untuk tujuan praktis. Bahwa globe yang berbentuk bulat menyulitkan pengguna ketika melakukan survey di lapangan atau mengamati
dari atas meja kerja mereka. Oleh karena itu perlu dilakukan adanya pemindahan
tiap garis-garis meridian dan parallel yang menempel pada lengkung globe menuju
suatu bidang yang datar agar memudahkan kita dalam memberi perlakuan lebih
lanjut terkait dengan gambaran permukaan bumi tersebut.
Secara sederhana, maksud dan tujuan dari proyeksi peta adalah memikirkan
cara-cara sistematis dan matematis untuk memindahkan sifat-sifat bidang
lengkung ke bidang datar sehingga tidak banyak kesalahan yang terjadi, atau
sekalipun ada kesalahan yang terjadi, maka kesalahan tersebut mampu kita
minimalisasi sekecil mungkin dan dapat diketahui sifat kesalahannya
(Sukwardjono dan Mas Sukoco, 1997). Proyeksi juga dapat diartikan
sebagai proses mengubah gambaran permukaan bumi dari bentuk tiga dimensi
menjadi bentuk dua dimensi dengan skala tertentu dan jelas terdapat
kesalahan-kesalahan di dalamnya.
Beberapa bentuk
kesalahan-kesalahan atau distorsi yang dapat terjadi akibat pemindahan, yaitu :
-
Distorsi luas,
-
Distorsi jarak, dan
-
Distorsi bentuk dan arah.
Namun ada beberapa cara
untuk meminimalisir kesalahan atau distorsi, diantaranya adalah :
-
Bentuk di permukaan bumi tidak mengalami
perubahan (harus tetap), sesuai dengan gambar peta di globe bumi.
-
Luas permukaan yang diubah harus tetap.
-
Jarak antara satu titik dengan titik
lain diatas permukaan bumi yang diubah harus tetap.
Proyeksi dapat
diklasifikasikan berdasarkan bidang proyeksi dan arah titik datang penyinaran.
-
Berdasarkan bidang proyeksi
ü Proyeksi
azimuth à
proyeksi yang bidang proyeksinya berupa bidang datar yang menyinggung bola pada
kutub, equator atau sembarang tempat.
ü Proyeksi
silinder à
proyeksi yang bidang proyeksinya berupa silinder atau tabung. Proyeksi ini baik
digunakan untuk menggambarkan daerah ekuator/ khatulistiwa.
ü Proyeksi
kerucut à
proyeksi yang bidang proyeksinya berupa kerucut. Baik digunakan untuk
menggambarkan daerah kutub.
-
Berdasarkan arah titik datang penyinaran
ü Proyeksi
gnomonis à
proyeksi dimana arah titik datang sinar berasal dari pusat bumi
ü Proyeksi
stereografis à
proyeksi dengan arah datang sinar dari daerah kutub yang berlawanan dengan
titik singgung proyeksi.
ü Proyeksi
orthografis à
proyeksi yang arah datang sinarnya dari titik jauh tak terhingga.
SKALA PETA
Skala
peta merupakan perbandingan jarak antara dua titik sembarang pada peta dengan
jarak sebenarnya di permukaan bumi dengan satuan ukuran yang sama, skala peta
juga dapat diartikan sebagai perbandingan antara jari-jari globe dengan
jari-jari bumi (Sukwardjono dan Mas
Sukoco, 1997).
Skala dapat dinyatakan dengan tiga macam
metode, diantaranya :
1.
Skala angka (numeric scale) / skala
pecahan (representative scale)
Skala ini dituliskan
dengan angka atau pecahan.
Contoh :
-skala angka (numeric scale) à
1 : 75.000
-skala pecahan (representative scale) à 1/75.000
2. Skala verbal (verbal scale)
Skala ini dituliskan dalam bentuk kalimat.
Biasanya skala verbal digunakan pada peta-peta yang tidak menggunakan satuan
pengukuran metrik.
Contoh :
one inch to three mile = 1 : 190.980
3. Skala
grafis (graphical scale line)
Skala ini ditunjukkan
dengan garis lurus yang dibagi menjadi satuan yang panjangnya sama dan tiap
satuan tersebut menunjukkan jarak yang sebanding di lapangan.
Berdasarkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 Tahun 2000 tentang tingkat penelitian peta untuk
penataan ruang wilayah, skala memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
– garis pantai;
–
hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau,
waduk atau bendungan;
– permukiman, berupa
kota;
–
jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan
kereta api, jalan lain, bandar udara, pelabuhan;
–
batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten,
batas kota, batas
kecamatan, batas desa;
– garis kontur;
– titik tinggi;
– nama-nama unsur
geografis.
Unsur-unsur
peta rencana tata ruang wilayah nasional, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya,
kawasan tertentu, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan
kelistrikkan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku
dan sistem jaringan utilitas.
Pencarian
skala dapat dilakukan dengan berbagai metode. Jika suatu peta tidak diketahui
skalanya, maka dapat dilakukan dengan beberapa cara dibawah ini :
1. Membandingkan
dengan peta lainnya yang memiliki skala dan daerah yang dicakup sama.
2. Membandingkan
suatu jarak horizontal di lapangan
dengan jarak yang mewakilinya di peta.
3. Menggunakan garis kontur, seperti pada peta Topografi (peta kontur) di
Indonesia.
CI (Contour Interval) adalah selisih ketinggian
antara dua garis kontur yang dinyatakan dalam meter. Contour Interval sering
disebut jarak antara garis kontur. Garis Kontur yaitu garis-garis pada peta
yang menghubungkan titik-titik yang memiliki ketinggian yang sama dari
permukaan air laut.
4. Menentukan dua titik di peta
yang belum ada skalanya dengan menghitung jarak pada meridian peta.
Kemudian untuk
memperbesar dan memperkecil skala (mengubah skala peta), bisa dilakukan dengan
beberapa metode berikut :
1.
Menggunakan metode grid square (bujur sangkar)
2. Menggunakan metode union jack
DAFTAR PUSTAKA
Nur
Hidayati, Iswari.2011. Petunjuk Praktikum
Kartografi Dasar. Yogyakarta: Fakultas Geografi.
Sukwardjono
dan Mas Sukoco.1997. Kartografi Dasar.
Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.
Kartografi dan Pemetaan
Kartografi
adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta,
sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dan hasil karya seni
(ICA, 1973). Sedangkan menurut UNO, kartografi merupakan ilmu pengetahuan
tentang cara mempersiapkan semua jenis peta dan chart, termasuk tiap
organisasinya dari survei awal (pendahuluan) sampai pencetakan akhir.
Peta
sendiri merupakan representasi atau penyajian secara riil dari ruang geografis.
Peta dapat diklasifikasikan berdasarkan dua faktor, yaitu faktor skala peta dan
faktor isi. Berdasarkan skala peta, peta dibagi menjadi 4, yaitu peta skala
sangat besar (lebih dari 1:10.000), peta skala besar (1:10.000-1:100.000), peta
skala sedang (1:100.000-1:1.000.000) dan peta skala kecil (kurang dari
1:1.000.000). Sedangkan berdasarkan faktor isi, dibagi menjadi 3, yaitu peta
tematik (menampilkan suatu tema khusus atau lebih), peta topografi (peta
rencana atau peta geografi, dan chart (peta navigasi).
Fungsi
peta sangat beragam, diantaranya:
·
Dalam bidang perencanaan, yaitu:
1. Untuk
memberikan informasi pokok dalam hal keruangan.
2. Sebagai
alat analisa untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Contohnya dalam merencanakan
daerah pemukiman.
3. Sebagai
alat merencanakan penemuan-penemuan penelitian yang dilakukan.
4. Sebagai
alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.
·
Dalam bidang penelitian, yaitu:
1. Sebagai
alat bantu sebelum melakukan survei, untuk mendapatkan gambaran tentang daerah
yang akan diteliti.
2. Sebagai
alat yang digunakan selama penelitian misalnya memasukkan data yang ditemukan
di lapangan.
3. Sebagai
alat untuk melaporkan hasil penelitian.
Setiap peta memiliki
sifat umum yang sama, yaitu untuk menambah pengetahuan dan pemahaman
geografikal bagi si pengguna peta tersebut. Dan semua peta juga memiliki tujuan
dasar yang sama, yaitu sebagai suatu interpretasi terhadap lingkungan
geografikalnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Nur
Hidayati, Iswari.2011. Petunjuk Praktikum
Kartografi Dasar. Yogyakarta: Fakultas Geografi.
Sukwardjono
dan Mas Sukoco.1997. Kartografi Dasar.
Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.
Subscribe to:
Posts (Atom)