Perkembangan
teknologi informasi telah menciptakan sebuah “ruang baru” yang telah
mengalihkan berbagai aktifitas manusia dalam berbagai aspek dari dunia nyata ke
dalam ruang baru tersebut yang disebut cyberspace yang bersifat artifisial dan
maya. Perkembangan tersebut mengakibatkan migrasi besar-besaran manusia dari
ruang nyata menuju ruang maya .
Migrasi
manusia yang terjadi besar-besaran ini menimbulkan perubahan besar dalam diri
manusia dalam memaknai kehidupan sehingga berbagai cara hidup dan bentuk kehidupan
yang sebelumnya dilakukan secara alamiah yang kini dilakukan dengan cara baru
yaitu artifisial .
Tidak
hanya berbagai akifitas manusia yang dilakukan dengan cara baru , yang dan
telah berlangsung semacam transformasi terminologis dan epistemologis . Pada
migrasi terminologis yang secara
besar-besaran memberikan awalan cyber untuk berbagai bidang kehidupan nyata
yang sekarang telah bertransformasi pada dunia maya seperti telah terjadi
pembangunan besar –besaran suatu cyber city dalam dunia baru tersebut .
Dunia
baru tersebut yang disebut cyberspace adalah suatu ruang imajiner dimana
manusia dapat beraktifitas sosial dengan cara yang baru yaitu cara artifisial
dimana cara ini mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi .
Kesadaran
manusia berupa kesadaran kognitif yang
menangkap obyek-obyek sekitar. Bila kesadaran
kognitif tidak berlangsung
manusia berada di alam bawah sadar atau ketaksadaran. Pengalaman yang dialami
setiap orang dalam cyberspace berbeda-beda, tergantung objek yang ditangkap. Perbedaan
tersebut tergantung kualitas yang ditagkap oleh kesadran. Objek dalam
cyberspace adalah objek yang satuan
informasi di dalam sistem pencitraan komputer yang disebut dengan bit. Pengertian
halusinasi di dalam konteks cyberspace harus dibedakan dengan pengertian di dalam dunia harian.
Halusinasi dalam dunia harian merupakan
kesadran akan-akan objek-objek nyata secara temporer. Halusinasi dalam cyberspace berupa halusinasi
yang diproduksi secra teknologis berupa citra-citra di dalam sistem komputer
sehingga ia dapat disimpan, diperbanyak, dikopi, di kirim dan kembali di masa
datang.
Perkembangan
cyberspace telah mempengaruhi kehidupan sosial pada berbagai tingkatnya. Cyberspace telah menciptakan perubahan yang
mendasar. Perubahan terhadap kehidupan sosial
pada tingkat individu dan komunitas. Pada tingkat individu, cyberspace
menciptakan perubahan mendasar dalam pemahaman kita tentang diri dan identitas.
Kekacauan identitas mempengaruhi persepsi, pikiran, personalitas dan gaya hidup
tiap orang.
Dalam
cyberspace terdapat permainan identitas, yaitu identitas baru, identitas palsu, identitas ganda, dan
identitas jamak. Cyberspace dalam tingkat interaksi antar individu, membentuk
jaringan dan hubungan bukan oleh materi, tetapi menjadikan saling ketergantungan
dan keterhubungan secara virtual. Cyberspace pada tingkat komunitas menciptakan
satu model komunitas demokratis dan terbuka yang disebut howard rheingold
komunitas imaginer. Perbedaan mendasar terletak pada komunitas konvensional.
Cyberspace
telah menimbulkan dunia representasi. Representasi adalah pelukisan kembali
realitas yang tidak dapat dihadirkan, sehingga diperlukan model penghadiran
kembali realitas lewat berbagai model bahasanya yaitu secara verbal, visual,
gambar, dan citra. Dunia cyberspace adalah dunia dimana model represetasi itu
tidak lagi mempunyai relasi dengan realitas. Cyberspace menciptakan sebuah
relasi yang bertentangan dengan representasi. Segala sesuatu yang tidak dapat
dilakukan dalm dunia nyata kini dapat dilakukan dalam dunia simulasi
cyberspace, yang menjadikan orang terbebas dari hambatan dunia nyata yang
dihadapi manusia.
Margaret
Wertheim menjelaskan bahwa cyberspace merupakan tempat pelepasan diri dari
beban kerja, tekanan jiwa, tekanan politik dan tekanan keluarga dalam
masyarakat industri yang sangat menghimpit. Cyberspace merupakan sebuah ruang
dimana setiap orang dapat bermain di dalam berbagai bentuk fantasi kelompok,
atau drama kolektif yang bersifat virtual. Cyberspace secara cepat dapat
membentuk komunitas-komunitas global lewat berbagai bentuk permainan, diskusi,
tontonan, hiburan, dan tempat tiap orang dapat merealisasikan segala
fantasinya.
Keaslian
yang di majinasikan oleh para visioner cyberspace adalah keotentikan yang
dikembangkan oleh para penganjur keaslian yang radikal yang menolak segala
bentuk otoritas dan kekuasaan dalam rangka menciptakan sebuah ruang dimana
orang dapat mengekspresikan dirinya secara bebas tanpa bergantung kekuasaan.
(BALAIRUNG : cyberspace dan perubahan sosial)
No comments:
Post a Comment