Dhani, apa kabar Indonesia kini?
Sudah lama saya tidak mendengar tanah kelahiran saya.
Sudah lama saya tidak mendengar tanah kelahiran saya.
Siapa Presiden kita kali ini Dhan? Militer lagi ataukah sudah teknokrat? Aku
ingin suatu saat Indonesia dipimpin oleh Filsuf atau Budayawan. Biar ia
bijak,atau setidaknya ia mungkin bisa berpikir secara lebih baik,bukan lagi
tentang untung rugi,tapi baik buruk. Dulu ada Buya Hamka, orang hebat dan baik
ia Dhan. Berani dia kritik Soekarno, kudengar ia sahabat Hatta.
Dhani masihkah kau suka membaca? Aku ada buku bagus,buku lama tapi semoga kau
suka. Dr. Zhivago judulnya,Pasternak yang menulis. Boris Pasternak,ah si
manusia itu yang sampai akhir hayatnya menolak berkompromi dengan sesama
manusia,sampai saat ini tak sempat aku menulis tentangnya Dhan.
Kapan-kapan kau tulis tentangnya, nanti kubaca. Jangan pacaran terus. Ya aku
tahu, kau sedang dekat dengan seorang gadis Padang. Kawanmu Rasul bercerita,
dia tiba lebih dahulu di sini sebelum Gus Dur. Aktifiskah dia Dhan? Katanya dia
aktif di LPM Keadilan. UII Jogja, anak sebaik dan secemerlang itu. Sayang
sekali, kenapa pemuda hebat selalu cepat kesini. Sedangkan para pemabuk dan
penggila pesta selalu berhayat panjang.
Tapi yah, beruntunglah mereka yang mati muda,dan yang tak pernah dilahirkan.
Masihkah kau jadi anggota Tegalboto? Nama yang aneh Brick Field? Hahaha jangan
marah Dhan, apapun namanya jika dia berguna tak apalah. What is a name kata
Shakespeare. Sebagai wartawan kau musti tahu tugas pers. Jangan kau ikuti kata
Presiden Soekarno yang pernah bilang bahwa tugas pers itu adalah meninabobokan
rakyat.
Bukan Dhan. Tugas pers bukan begitu melainkan menggambarkan kebenaran pada
pembaca. Kalau pemberitaan itu merugikan kelompok tertentu maka berita itu
harus disiarkan. Kita sering dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi
kain maju, kemiskinan berkurang, gerombolan penjahat dikalahkan dan seterusnya.
Beginilah gambaran kemerdekaan pers di Indonesia : Potonglah kaki dan tangan
seseorang lalu masukkan dia di tempat berukuran 2x3 meter dan berilah kebebasan
padanya. Inilah kebebabasan pers di Indonesia. Hahahaha.
Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan dulu.
Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar
dan yang sejenisnya lagi.
Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya.
Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Saya ingin menolong rakyat kecil
yang tertindas, tetapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik
saya? Saya bukan Ubermensh Dhan. Waktu itu, kadang saya lelah bergulat dengan
pemikiran saya sendiri.
Saya lelah memikirkan tentang rakyat, bangsa dan kemanusiaan. Tapi apapun yang
terjadi saya menolak untuk berkompromi dengan penindasan. Lebih baik mati
diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.
Dan sekarang makin saya geli melihat kawan-kawanmu, generasi mahasiswa kala ini
sedang galau. Sibuk mencari eksistensinya sendiri. Kulihat kau pun demikian,
lebih sering update status Facebook daripada memperbaiki ibadahmu.
Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya dia mengambil keputusan
yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas
prinsip-prinsip yang dewasa.
Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran,dan salah sebagai
kesalahan. Kau tak percaya? Lihat saja demonstrasi mahasiswa saat ini, norak,
anarkis dan kampungan! Dulu aku benci sekali dengan mahasiswa oportunis yang
sok-sokan menjadi bagian dari sebuah sistem parlemen.
Sistem itu busuk Dhan, tetapi melihat mahasiswa demonstrasi dengan membawa
batu, parang, kayu dan bensin. Juga bom molotov? Mereka itu sebenarnya mau
menjalankan demokrasi atau sekedar sok jagoan?
Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau
ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman
seideologi dan lain-lain.
Setiap tahun datang adik-adik kita datang dari sekolah menengah. Mereka akan
jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam itu
tadi. Busuk bukan? Ya,yah aku ingat kau dulu pernah bercerita tentang
kawan-kawanmu dari organisasi ekstra yang kau bilang busuk itu. Tapi kita tetap
harus adil Dhan. Seorang intelektual harus adil sejak dalam pikiran dan perbuatan.
Lama dia tak baca lagi tulisanmu, mandul kau katanya? Ayo menulis Dhan, ajak
temanmu sekalian. Jangan mau jadi renik dalam sejarah yang hanya numpang kuliah
tanpa bisa memberi jejak dalam sejarah.
Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak
ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan,
terhadap pengkhianatan, terhadap segala-segala yang non humanis harus terus
dilakukan.
Sudahkah kau lulus Dhan? Jangan lulus dulu, tuntaskan dulu tanggung jawabmu
sebagai intelektual, bukan aku menyuruhmu malas. Tapi sesuaikan dengan tanggung
jawabmu sebagai Agent of Enlighment. Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan
mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas disegala arus masyarakat yang
kacau, seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanaannya.
Lalu hiduplah dengan keyakinan teguh.
Karena kau tahu, saya tak mau jadi pohon bambu. Saya mau jadi pohon oak yang
berani menentang angin. Karena saya tak mau diam melihat penindasan. Dan saya
lebih tak suka melihat orang-orang munafik.
Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang
berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
Kau tentu ingat puisiku Dhan, Puisi yang kubuat saat sedang galau. Yah pasti
kau lupa, tak suka aku dengan tabiatmu ini. Baiklah kutulis ulang untukmu Dhan.
"Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh dan pemuda,
bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama
apa pun. Dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan
beras, buat anak-anak yang lapar di tiga benua. Dan lupa akan diplomasi. Tak
ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun dan bangsa apa
pun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan
dunia yang lebih baik. Tuhan – Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah
akan datang."
Hadapilah cita² ini Dhan, karena buat apa menghindar? Cepat atau lambat, suka
atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru,
tetapi satu yang harus dipegang : kepercayaan. Karena kehidupan sekarang
benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di
kebun binatang dan tidak punya kerja lagi.
Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras diusap oleh angin dingin seperti
pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil, orang-orang
seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur. Bergeraklah Dhan, tubuhmu
terlalu gemuk, terlalu banyak makan junkfood. Jangan kau bilang peduli rakyat,
jika makanmu masih seperti priyayi. Bergeraklah Dhan, ayo didik masyarakatmu
dengan kata-kata dan buku.
Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut
mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit
tidak mungkin subur tumbuhnya, hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin
tumbuh dengan baik. Berakar menghujam seperti beringin.
Maka jika kau lihat mengapa Orde Baru kuat mengakar, ya mungkin karena lambang
partainya adalah beringin. Akan lain cerita jika lambangnya adalah pohon toge.
Atau pohon kedondong.
Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit, maka jadilah
saja belukar. Tapi belukar terbaik yang tumbuh ditepi danau. Kalau kau tak
sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat
tanggul pinggiran jalan.
Tidak semua harus jadi kapten, atau Jenderal. Tentu harus ada awak kapalnya
agar kapal tetap bisa berlayar. Karena bukan besar kecilnya tugas yang
menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Tetapi jadilah saja dirimu,
sebaik-baiknya dirimu sendiri.
Dhan, aku mau kau dan generasimu mengerti. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya
alat menuju kondisi yang lebih baik. Ayo bangkit Dhan, jangan malas, jangan
hanya bisa nonton sinetron. Tak malu kau pada kami? Jadilah hebat karena kau
peduli dan jujur. Tak perlu dengan agitasi turun ke Jalan.
Jangan diam Dhan, diam hanya macam orang kejam. Karena diam dan kasihan adalah
laknat kutukan pada hati manusia. Ingatlah Dhan, apatisme lahir karena dua hal,
kau terlalu bodoh untuk berpikir atau terlalu egois untuk peduli.
Kutunggu kau untuk jadi martir zaman ini.
Sahabatmu,
Gie
Mengenang Soe Hok Gie, lahir di Jakarta 17 Desember 1942 dan mati di Puncak
Semeru 16 Desember 1969
Source: : http://www.facebook.com/groups/SMANegeri2Purwokerto/permalink/10151172997352374/
No comments:
Post a Comment