Sedikitnya jumlah ilmuan Geografi
ini disebabkan lulusan Geografi di Indonesia hanya berasal dari dua perguruan
tinggi, UGM dan Universitas Muhammadiyah Surakarta dan 31 Pergurruan tinggi
yang memiliki jurusan Geografi.
“Akibatnya bidang keahlian yang
seharusnya terisi oleh ilmuan Geografi tidak bisa dipenuhi, karena tingginya permintaan.
Untuk memenuhinya, butuh upaya khusus dengan membuka prodi dan fakultas
Geografi baru agar kebutuhan tenaga profesional terpenuhi,” kata Dr. Muhammad
Dimyati, Ketua Ikatan Geografi Gadjah Mada (Igegama), di sela-sela kegiatan
kongres dan seminar internasional di bidang pemetaan,di UGM baru-baru ini.
Dimyati memperkirakan, saat ini
kebutuhan ilmuwan Geografi mencapai 29 ribu. Sementara jumlah lulusan masih
cukup sedikit. Untuk bisa memenuhi jumlah tersebut setidaknya diperlukan waktu
kurang lebih 25 tahun.
“Harus ada cara lain untuk
mencetak tenaga profesional, agar seimbang antara permintaan dan output
perguruan tinggi,” kata alumni fakultas Geografi UGM ini yang lulus tahun 1982
ini.
Untuk menambah kebutuhan ahli
Geografi, Dimyati menyarankan pemerintah
mmeberikan rekomendasi ke perguruan tinggi yang ada untuk membuka jurusan atau
fakultas Geografi baru. Apresiasi masyarakat terhadap Geografi bisa
ditingkatkan dengan memperbesar kuota jumlah mahasiswa di perguruan tinggi.
Guna memperbaiki kondisi maka
program studi Geografi di perguruan tinggi juga harus menyamakan kompetensi
lulusan, termasuk pembahasan kurikulum Geografi dan memperjelas bidang-bidang
kompetensi Geografi yang harus dikuasai.
Pemberian pelajaran Geografi bisa
diberikan pada tingkat lebih awal sejak SD dan SMA. Harapannya pengajaran
Geografi butuh kesinambungan sebelum pada tingkatan pendidikan tinggi bisa
memperbesar daya tampung dan kapasitas kuota mahasiswa yang memperdalam ilmu
Geografi.
Dekan Fakultas Geografi Prof. Dr.
Suratman, menyampaikan Indonesia membutuhkan banyak geograf untuk
mengeksplorasi potensi sumber daya alam. Dia menyebutkan lima kompetensi yang
harus dikuasai oleh ahli Geografi, yaitu menguasai pemahaman hubungan alam
dengan kehidupan sosial, sumberdaya dan wilayah, pelestarian pengelolaan
lingkungan hidup, mitigasi bencana, dan sistem informasi Geografi.
"Terakhir soal keahlian bidang sistem
informasi Geografis yang bisa jadi usaha mandiri. Bagaimana wawasan spasial
dapat memberikan nilai untuk wawasan kebangsaan, kewilayahan dan
kewirausahaan," kata Suratman.(rhs)
No comments:
Post a Comment