Ada salah satu hasil coretan gaje yang saya buat saat masa putih abu-abu dulu, ya kurang lebih dua tahun yang lalu. Nah ini dia coretan gaje ben abstrak saya, monggo nostalgia ^.^
Asa & Cinta
Gema nuansa Illahi yang mengalun indah, menyerukan
perintah Sang Pencipta untuk menegakkan kewajiban semua umat-Nya. Adzan Subuh
yang selalu mengawali hari-hariku, menegurku agar selalu ingat untuk
memanjatkan segenap rasa syukur kepada-Nya, Ar-Rahman
Yang Maha Pengasih, atas nikmat-Nya aku masih dapat melihat dan menikmati
indahnya dunia. Terdengar pelan suara ketukan pintu kamarku.
“Sita, bangun Nduk. Shalat Subuh.” Suara pelan wanita
yang tak asing lagi, Ibu.”
“Iya bu, Sita bangun.”
Berat rasanya melangkahkan kaki ini, setelah semalam
suntuk aku menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Bapak Ibu guru. Tapi aku
selalu ingat pesan Ibu, “Yakinlah, kesuksesan tidak datang pada orang-orang
yang enggan berusaha. Kau seorang pelajar, sudah menjadi kewajibanmu ngangsu
kawruh. Jangan suka mengeluh dan lakukan semuanya dengan ikhlas karena Allah
Ta’ala.”
“Baik, semangat!” seruku dalam hati. Aku mulai
melangkahkan kaki untuk segera mengambil air wudlu dan segera menuju langgar,
masjid kecil di dekat rumahku.
J
“Sita, sarapan dulu. Nanti berangkat sekalian antarkan
Ibu ke warungnya Bu Endang soalnya Bapak mau langsung berangkat katanya.” Kata
Ibu dengan jelas dari dapur belakang.
“Iya bu, nanti Sita antar.”
Ya, namaku Masita Az Zahra, nama yang sederhana tetapi
penuh makna bagiku. Cukup beralasan orang tuaku mmberikan nama itu padaku.
Mereka berharap kelak aku bisa seperti Maysitah yang begitu istiqamah, seorang
wanita yang tetap kukuh mengakui Tuhan hanyalah Allah SWT. Dan Az Zahra sendiri
mereka tambahkan dengan makna cahaya. Mungkin mereka berharap aku bisa menjadi
wanita yang istiqamah, laksana cahaya yang terus menyinari hingga tiba masanya
nanti semua kembali kepada-Nya.
Aku juga bukan dilahirkan dalam keluarga berkalangan
priyayi, keluargaku sederhana. Bapakku bekerja di sebuah kantor distributor
surat kabar yang cukup terkemuka. Meskipun penghasilannya tak seberapa, kami
yakin bahwa selagi kami masih dapat makan hari ini dan esok, kami sudah
termasuk orang yang beruntung. Hal itu yang selalu ditanamkan padaku, anak
tunggalnya.
Segera aku melangkahkan kaki ke dapur dan menyantap
sarapan yang sudah Ibu siapkan.
“Sita, bapak berangkat dulu.” Pamit Bapak padaku.
“Iya, ati-ati Pak.” Ucapku di depan pintu sambil mencium
tangannya.
“Assalamu’alaikum.” Tak pernah lupa Bapak ucapkan kata
salam itu.
“Wa’alaikumsalam.” Balasku sambil melihat bayangan Bapak
yang terus menjauh menembus kabut dengan sepeda motornya.
“Bu, besok Senin Sita udah mulai ulangan kenaikan kelas
lho. Doain Sita ya.” Kataku sambil menyantap nasi goreng kesukaanku.
“Ya nduk, pasti Ibu sama bapak mendoakan yang terbaik.
Ayo dihabiskan dulu makannya.”
J
Sampai di sekolah, seperti yang sudah ku kira hari ini
ada tugas matematika. Ribut bukan main, kelas penuh sesak dan semuanya panik,
khawatir kalau sampai tugas itu tidak selesai. Maklum, Pak Budi yang terkenal
disiplin itu pasti tak segan untuk memberi hukuman pada siswanya yang tidak
mengerjakan tugas.
“Sita, halaman 75 yang uraian. Cepet, keburu Pak Budi
dateng.” suara setengah tersengal-sengal Deni yang tak lain meminta jawaban
pekerjaanku.
“Sebentar. Semalem ngapain aja kamu? Tugas belum kelar
kayak gitu?” candaku yang terkesan sombong.
“Ah, banyak ngomong. Buruan! Mau sombong entar aja, gawat
nih!” desaknya.
“Hehe, bercanda bos! Nih bukunya.” sahut Sita sambil
menyodorkan bukunya.
“Nah, gitu dong. Dari tadi kek!” katanya girang.
J
Bel istirahat berdering. Aku segera menuju keluar kelas,
sekedar menghirup udara setelah dua jam bertegang ria dengan Pak Budi
mempelajari fungsi turunan yang cukup menguras otak dan dianggap anak-anak
sebagai materi yang sulit.
“Sita, ke kantin yuk?” tanya Uni teman sebangkuku.
“Ah, enggak. Lagi pengiritan. Hehe..”candaku dengan
senyuman.
Teman-temanku Uni, Rio, Dini, Ratih dan Febri menemaniku duduk di
bangku depan kelas. Seperti biasa, banyak hal yang selalu kami bicarakan mulai
dari gosip infotainment yang sedang hangat, tentang pelajaran, bahkan
seringkali berdebat sok bijak tentang masalah yang ada di antara kami.
“Masya Allah, tetangga baruku yang rumahnya di pengkolan
itu, cakepnyaaa..” kata Ratih.
“Halah, enggak mutu banget ngomongin tetanggamu. Eh,
ngomong-ngomong nih masa kemarin si Rini udah jadian sama Bagus. Padahal
pedekatenya belum ada seminggu.” ucap Dini serius.
“Emang, kemaren aku yang bantuin Bagus jadi tim
suksesnya.” kata Rio bangga.
Selalu seperti ini yang menjadi topik pembicaraan.
Terkadang aku merasa jengah dan lebih memilih menjadi pendengar setia untuk
topik yang satu ini. Tiba-tiba Uni menarik tanganku dan masuk ke dalam kelas.
“Duduk. Aku mau
ngomong.” kata Uni dengan mimik serius.
“Iya, ngomong aja. Serius amat neng?” balasku santai.
“Gimana kabarnya Ahsan? Katanya kamu lagi deket sama dia?”
tegas Uni.
Mendengar nama Ahsan aku jadi speechless! Aku paham
maksud Uni.
“Udah lah, mukanya enggak usah merah gitu. Aku siap jadi
tim suksesmu! Gimana?”
Bel masuk menyelamatkanku dari cecaran
pertanyaan-pertanyaan Uni yang semakin tak jelas arahnya.
“Udah bel tuh!” kataku mengalihkan pembicaraan.
J
“Sita!” Terdengar suara teriakan yang tidak asing lagi.
“Eh, Ahsan.. Pulang?” kata-kata darurat yang keluar dari
mulutku. Ya, aku rasa tidak begitu buruk aku tanyakan demikian karena setting
pertemuan yang tidak disengaja kali ini di Parkiran sekolah.
“Iya nih. Mau bareng?” tanya Ahsan.
“Makasih, aku lagi bawa motor nih. Duluan ya..
Assalamu’alaikum.” jawabku dengan jantung yang
berpacu cepat.
“Sip. Ati-ati ya. Wa’alaikumsalam.”
J
Malam ini, ada banyak tugas yang harus ku kerjakan, tapi
pikiranku tak jelas kemana. Lagi-lagi aku mengingat Ahsan. Pemuda yang aktif di
berbagai organisasi di sekolah ini sudah memikat hatiku.
Ya, karena dia memiliki banyak kelebihan,
baik di bidang akademik maupun
non-akademik, juda didukung tingkah
lakunya yang santun dan baik.
“Ya Allah, Engkau Maha Pemberi Petunjuk. Salahkah
hamba-Mu yang begitu kecil ini merasakan nikmat cinta yang Kau beri?”
Aku tak dapat memungkiri, akhir-akhir
ini aku memang cukup dekat dengan Ahsan, mungkin begitu juga dengannya. Seperti remaja 17 tahun sebayaku. Masalah seperti ini tak
asing lagi. Aku semakin tak tenang. Aku segera menuju ruang tamu. Aku ingin
mengungkapkan semuanya di pangkuan Ibu. Ibu yang sedang duduk di ruang tamu
menonton TV terlihat masih sabar menanti Bapak pulang.
“Ibu..” bisikku ke telinganya.
“Ya, nduk. Kenapa?”
“Sita mau ngomong sama Ibu.”
Aku menceritakan semuanya pada Ibu, wanita yang tidak
pernah lelah mendengar keluh kesahku dan selalu memberi wejangan-wejangan yang
bermanfaat.
“Masita Az Zahra, putri Ibu. Ibu ndak menyalahkan kamu.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya dengan cinta.”
“Atau Sita lebih baik seperti Rabi’ah Al-‘Adawiyah yang seumur
hidupnya hanya untuk mencintai Allah semata? Hidupnya, apapun yang ia kerjakan
semua hanya untuk Allah?”
“Bukan begitu, Ibu tak menyalahkan kamu kalau kamu
menyukai seseorang. Ibu tau kamu pasti bisa memilih yang terbaik. Ahsan juga
pasti memahami kondisimu.”
“Baiklah bu, Sita lebih memilih Ahsan tetap menjadi teman
terbaik Sita. Biarkan waktu yang jadi jawaban, kalau memang Allah menggariskan
bersama, kelak di pelataran surga. Amin.. Sita pengin lebih konsen belajar.
Makasih bu, Sita jadi lega.”
“Nah gitu dong, baru anak Ibu,” pungkasnya.
Aku berniat mengirim sms ke Ahsan, tetapi tiba-tiba
handphoneku berdering.
New Messages
From : Ahsan
Y, kelak di Pelataran Surga. J
Sms itu entah mengapa terasa sangat kebetulan. Langsung
kutekan tombol reply dan mulai mengetik balasan smsnya.
To : Ahsan
Sip, Boss! J
Aku merasa lebih nyaman. Berteman baik lebih
menyenangkan. Aku masih punya sejuta angan yang harus aku wujudkan. Tak ada
banyak waktu untuk merasakan sakitnya “jatuh” cinta, atau mirisnya “patah” hati
yang biasa remaja lain rasakan. Saatnya mulai meraih mimpi-mimpi dengan
berkarya dan yakin suatu saat kesuksesan dapat kita raih seperti pernyataan
yang diungkapkan Donny Dhirgantoro, novelis favoritku
“Keep our
dreams alive... and we will survive.”
-J-
- The end –
No comments:
Post a Comment